• Home
  • About
  • Vanaila.com
  • Advertise
facebook twitter instagram Email

ASWshare

Just two cents of my thinking frameworks

Biar Gak Blank Pas Interview: Persiapan, Gestur, & Trik Menaklukkan HR


Assalamualaikum. | Selamat Pagi/Siang/Malam.

Akhir-akhir ini gua sering banget ngewawancarai kandidat dan ngurusin hal-hal krusial dari mulai headhunting sampe ngereview draf kontrak karyawan. Dari sekian banyak orang yang gua temui, ternyata masih banyak banget yang dateng interview tuh modal "bismillah" doang.

Jujur aja, sebagus apapun CV lu, kalo pas interview lu gelagapan, peluang lu buat dapet offering bisa langsung melayang. Bencana bagi kandidat pun tiba saat ditanya, "Apa yang kamu tahu tentang posisi ini?" dan mereka cuma bisa senyum canggung. Biar kejadian kayak gini gak kejadian di lu, ini beberapa hal krusial yang wajib lu siapin sebelum tempur.

1. Riset Posisi & Perusahaan (The Basics)

Jangan pernah dateng dengan tangan kosong. Lu harus tau perusahaan ini gerak di bidang apa, kompetitornya siapa, dan paling penting: baca ulang Job Description lu. Cari tau tantangan apa yang kira-kira lagi dihadapi perusahaan, terus pikirin "WHAT IF" lu masuk ke sana, solusi apa yang bisa lu tawarkan dari pengalaman lu sebelumnya.

2. Gestur dan Body Language

Ternyata gak segampang itu untuk pura-pura percaya diri. Lu harus sadar sama bahasa tubuh lu.

  • Kontak Mata: Tatap mata interviewer, tapi jangan melotot. Kalo nervous, tatap bagian tengah alisnya.
  • Postur: Duduk tegak, condong sedikit ke depan buat nunjukin lu antusias. Jangan bersandar kayak lagi di warung kopi.
  • Tangan: Jangan lipat tangan di dada (kesannya defensif). Taruh tangan di atas meja atau paha, dan gunakan gestur sewajarnya saat ngejelasin sesuatu.

3. Bersikap: Jangan Oversell, Jangan Merendah

Gua paling sering nemu kandidat yang saking pengennya keterima, dia ngejual janji manis berlebihan. Ingat, rekruter itu biasanya udah paham pola. Jawablah sesuai porsi. Kalau ditanya kelemahan, jawab jujur tapi kasih tau apa yang lagi lu lakuin buat ngatasin hal itu.

Pesan moral dari cerita gua ini adalah, persiapan itu setengah dari kemenangan. Terkadang lu harus sadar dengan apa yang lu miliki, dan gimana cara nyampeinnya ke orang lain dengan elegan. Semoga lu bisa lebih percaya ke kemampuan lu sendiri pas interview nanti. Kuncinya "Jalani dulu aja" dengan persiapan matang.

Sekian.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Burnout Bukan Cuma Soal Kurang Kopi: Bedah Teori dan Cara Beneran Ngatasinnya


Assalamualaikum. | Selamat Pagi/Siang/Malam.

Beberapa waktu lalu, di tengah kesibukan gua ngurusin kerjaan HR dari mulai *screening* CV, ngeberesin draf kontrak yang gak kelar-kelar, sampe malemnya masih harus mantengin side project bikin website, gua ngerasain satu fase di mana energi gua bener-bener habis. Bukan capek fisik yang kalo lu bawa tidur semalem atau dipakein koyo besoknya sembuh, tapi ini capek mental. Lu bangun tidur jam 7 pagi, tapi rasanya otak lu udah kerja 12 jam.

Ternyata fenomena ini gak bisa disepelein pake kalimat "Ah, lu kurang ngopi kali," atau "Kurang liburan tuh." Waktu gua merancang bundle asesmen psikologi buat ngukur beban kerja karyawan, gua nyoba ngulik hal ini lebih dalam. Dan faktanya, burnout itu nyata, terukur, dan ada landasan ilmiahnya yang jelas.

Landasan Teori: Apa Sebenarnya Burnout Itu?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi udah masukin burnout ke dalam klasifikasi penyakit internasional (ICD-11) sebagai fenomena okupasional. Artinya, ini murni sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang gagal dikelola dengan baik. Biar lebih clear, kita bisa bedah dari dua instrumen psikologi yang sering dipake:

1. Mengukur Beban Kerja dengan NASA-TLX (Task Load Index)

Sebelum lu masuk ke fase burnout, biasanya lu akan dihajar dulu sama yang namanya Mental Workload (Beban Kerja Mental). Instrumen NASA-TLX membagi beban ini ke beberapa dimensi, di antaranya:

  • Mental Demand: Seberapa banyak aktivitas mental dan perseptual yang dibutuhin? (Misal: mikirin strategi, coding, atau ngerumusin KPI).
  • Temporal Demand: Seberapa besar tekanan waktu atau deadline yang bikin lu ngerasa dikejar-kejar anjing tiap hari?
  • Frustration Level: Seberapa insecure, stres, atau jengkelnya lu selama ngerjain tugas itu?

Kalo tiga hal ini terus-terusan tinggi dan gak ada jeda, that's mean sistem kognitif lu lagi ngebakar dirinya sendiri.

2. Klasifikasi Kelelahan lewat Copenhagen Burnout Inventory (CBI)

Nah, pas lu udah "terbakar", instrumen CBI ngebagi burnout ini jadi tiga lapis penderitaan:

  • Personal Burnout: Kelelahan fisik dan emosional yang lu rasain setiap saat. Lu gampang marah, gampang sedih, dan ngerasa kosong.
  • Work-related Burnout: Kelelahan yang bener-bener tersentralisasi karena kerjaan. Lu muak liat laptop, dan tiap hari Minggu malam lu udah anxiety mikirin hari Senin.
  • Client-related Burnout: Ini sering banget kejadian di orang HR, Sales, atau Customer Service. Lu ngerasa kehabisan empati dan muak berinteraksi sama orang, klien, atau kandidat.

Hal Praktikal: Terus Harus Gimana?

Dan bego-nya, kadang kita tau kita lagi burnout tapi tetep maksa lari terus. Berdasarkan evaluasi dari instrumen di atas, ada beberapa langkah taktis yang bisa lu lakuin biar otak lu gak overheating:

  1. Cognitive Offloading (Kurangi 'Mental Demand'): Jangan simpan semua to-do list, masalah, dan ide di kepala lu. Otak itu dipake buat mikir, bukan buat nyimpen data. Pindahin semua beban itu ke medium lain. Tulis di kertas (brain dump), masukin ke Notion, atau bikin jadwal harian yang kaku. Ini bakal ngurangin Frustration Level lu secara drastis.
  2. Bangun 'Batas Demarkasi' yang Jelas: Burnout sering terjadi karena batas antara waktu kerja dan waktu istirahat itu blur. Lu butuh transisi. Kalo jam kerja udah abis, tutup laptop lu. Matikan notifikasi grup kerjaan. Lu butuh disconnect secara nyata biar Temporal Demand lu balik ke titik nol.
  3. Cari Distraksi "Low-Mental Demand": Liburan rebahan sambil *scrolling* TikTok berjam-jam itu bukan istirahat, karena otak lu tetep nerima ratusan informasi baru per menit. Cari kegiatan yang pake fisik tapi gak terlalu mikir berat. Olahraga kayak futsal, badminton, beres-beres kamar, atau main game yang alurnya lu udah hafal (kayak FM). Intinya, biarin otak lu "napas".

Kesimpulan

Pesan moral dari tulisan gua kali ini adalah: lu butuh self-awareness. Terkadang lu harus sadar dengan kapasitas yang lu miliki. Karena terkadang dari ambisi buat ngerjain semuanya, kita gak sadar ternyata kita lagi ngorbanin mesin utama kita, yaitu kewarasan kita sendiri.

Jangan nunggu sampe sistem internal lu crash buat mulai peduli. WHAT IF lu nyisihin waktu 1 jam aja tiap hari buat bener-bener mutus koneksi dari kerjaan? Mungkin *output* lu malah bakal lebih maksimal. Kenali batas lu, atur strateginya, dan sisanya... "Jalani dulu aja".

Sekian.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Peran Teknologi dalam Evolusi Peredaran Narkotika: Dari Konvensional ke Pasar Kripto Gelap

Kajian Teknologi & Kriminologi Digital


Revolusi Industri Digital dan penetrasi internet—atau yang kerap dipayungi dalam Revolusi Industri 3.0—mendorong perubahan fundamental dalam pola interaksi, perolehan informasi, hingga transaksi komoditas global. Hanya dengan satu klik melalui gawai pintar maupun komputer portabel, seluruh aktivitas dapat terfasilitasi secara real-time. Kemudahan akses ini memicu akselerasi signifikan pada penggunaan internet dunia. Merujuk data Internet World Stats (2018), tercatat lonjakan penggunaan lebih dari 1.000% dibandingkan awal dekade 2000-an, menembus angka 4,15 miliar pengguna atau mencakup lebih dari separuh populasi bumi.

Dalam perkembangannya, kebutuhan atas ruang siber tidak hanya terbatas pada sektor sipil dan komersial, melainkan juga instansi militer yang menuntut tingkat kerahasiaan dan anonimitas tinggi. Kebutuhan operasional inilah yang mendorong Departemen Pertahanan Amerika Serikat melalui Naval Research Laboratory merancang arsitektur jaringan Darknet. Jaringan ini memanfaatkan prinsip onion routing, yaitu mekanisme komunikasi anonim antarkomputer melalui overlay network (jaringan di atas jaringan lain). Istilah onion digunakan karena setiap transmisi data dibungkus oleh enkripsi berlapis layaknya lapisan kulit bawang.

Guna mencegah pelacakan terfokus terhadap aktivitas militer dan intelijen, teknologi routing tersebut kemudian dibuka untuk publik dengan nama The Onion Routing (TOR). Untuk mengaksesnya, diperlukan peramban dan konfigurasi khusus. Kemunculan TOR menandai fase baru internet lapisan dalam. Secara arsitektur, internet terbagi menjadi tiga lapisan utama:

  • Surface Web: Lapisan terluar internet yang terindeks secara publik oleh mesin pencari standar seperti Google atau Bing.
  • Deep Web: Lapisan privat yang tidak terindeks publik—seperti basis data perbankan, portal korporat terproteksi, hingga cloud storage—yang memiliki volume estimasi 400 hingga 500 kali lebih besar dibandingkan Surface Web.
  • Dark Web: Segmen spesifik di dalam Deep Web yang hanya dapat diakses melalui protokol jaringan khusus (seperti ekstensi domain .onion). Karakteristik anonimitas mutlak pada domain ini kerap disalahgunakan untuk transaksi ilegal melalui darknet markets.

Evolusi kejahatan siber mencapai tonggak sejarah pada tahun 2011 saat Ross Ulbricht meluncurkan Silk Road, platform pasar gelap daring berbasis forum. Mengadopsi nama jalur perdagangan kuno Dinasti Han, Silk Road memfasilitasi transaksi narkotika berskala internasional. Sebelum akhirnya dibongkar oleh Biro Investigasi Federal AS (FBI) pada 2013, platform ini membukukan estimasi volume penjualan tahunan mencapai $22 juta (Forbes, 2015), dengan persebaran pengguna melintasi Amerika Serikat, Inggris, Australia, Swedia, hingga Rusia.

Peralihan dari transaksi jalanan (street-level dealing) ke ranah digital didorong oleh reduksi risiko operasional. Seperti yang diungkapkan Jonathan Birk, praktisi penegakan hukum siber dari Juliet Bravo Solutions, transaksi fisik konvensional di lokasi terisolasi yang rentan bentrokan telah digantikan oleh efisiensi antarmuka katalog digital dan jasa pengiriman pos. Runtuhnya Silk Road pun tidak memadamkan ekosistem ini; platform generasi berikutnya seperti Dream Market, Wall Street Market, dan Point Market segera mengisi kekosongan pasar dengan infrastruktur keamanan yang kian terdesentralisasi.

Studi empiris oleh Marie C. Van Hout dan Tim Bingham (2013) dalam International Journal of Drug Policy membedah motif perilaku konsumen pada pasar gelap digital. Riset tersebut menemukan bahwa kenyamanan, keragaman komoditas, serta transparansi ulasan pembeli (peer review system) menjadi daya tarik utama. Keandalan operasional transaksi ini ditopang oleh dua instrumen teknologi:

  1. Layanan Rekening Bersama (Escrow Service): Sistem penjamin pihak ketiga yang memitigasi risiko penipuan antara penjual dan pembeli sebelum verifikasi fisik barang diterima.
  2. Kriptokurensi Terdesentralisasi (Bitcoin): Instrumen moneter digital dengan lapisan kerahasiaan identitas tinggi yang memutus rantai audit perbankan konvensional.

Kemajuan teknologi pada hakikatnya bersifat netral ganda (dual-use technology). Protokol privasi digital dan enkripsi tingkat tinggi yang dirancang untuk melindungi integritas data serta kebebasan sipil dapat bertransformasi menjadi sarana kejahatan terorganisir apabila lepas dari pengawasan etika. Menghadapi disrupsi ini, strategi penegakan hukum modern tidak lagi memadai jika hanya bertumpu pada intervensi fisik di lapangan, melainkan menuntut penguatan forensik digital terpadu, literasi siber publik, dan regulasi teknologi yang adaptif.


Daftar Pustaka

  • Brewster, T. (2015, 18 Maret). A $50m Drug And Gun Dark Web Market Just Disappeared And Millions In Bitcoin With It. Forbes.
  • Internet World Stats. (2018). Internet Usage Statistics: The Big Picture.
  • Lott, M. (2018, 6 Oktober). Five years after dark web drug market shutdown, sales higher than ever. Fox News.
  • Van Hout, M. C., & Bingham, T. (2013). ‘Surfing the Silk Road’: A study of users’ experiences. International Journal of Drug Policy, 24(6), 524–529.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Assalamualaikum. | Selamat Pagi/Siang/Malam.

Akhir-akhir ini gua lagi sering banget merhatiin dinamika pencari kerja di Indonesia. Jujur aja, job market tahun 2026 ini bener-bener gak main-main selektifnya. Di satu sisi, persaingan makin padat karena jumlah pelamar membludak, di sisi lain, perusahaan juga makin canggih dalam nyaring berkas yang masuk.

Lucunya, gua masih sering banget nemu orang yang ngeluh, "Bang, gua udah sebar 100 lamaran tapi kok gak ada satu pun yang manggil interview ya?". Pas gua liat CV-nya... bego-nya, formatnya masih pake template grafis dua kolom warna-warni dari jaman baheula yang penuh rating bintang di bagian skills.

Bencana bagi pelamar pun tiba...

CV lu bahkan gak sempet dibaca sama HR atau recruiter, karena udah mental duluan di sistem penyaring otomatis alias ATS (Applicant Tracking System). Nah, biar waktu dan tenaga lu gak kebuang sia-sia, gua mau share sedikit panduan praktis gimana ngerombak CV lu biar bener-bener stand out dan lolos screening di era sekarang.

1. Format & Tipe: Balik ke Format ATS Sederhana

Buang jauh-jauh desain heboh pake progress bar atau grafik pie. Recruiter itu cuma butuh waktu sekitar 6–10 detik buat screening awal, dan sistem ATS butuh teks yang gampang dibaca secara linear.

  • Gunakan format satu kolom (single column), background putih polos, font standar yang bersih (kayak Arial, Calibri, atau Inter).

  • Simpan file dalam bentuk PDF dengan penamaan yang profesional: Nama Lengkap_Role Target_CV.pdf.

2. Struktur Heading & Urutan yang Rapi

Biar alur bacanya enak dan logis, susun urutan CV lu seperti ini:

  1. Header (Kontak): Nama Lengkap (bold), Lokasi (cukup Kota & Domisili), Email aktif, Nomor WhatsApp, dan link LinkedIn / Portofolio.

  2. Professional Headline / Summary: 2–3 kalimat padat yang ngejelasin siapa lu, spesialisasi lu apa, dan impact terbesar yang pernah lu bawa.

  3. Work Experience: Pengalaman kerja relevan diurutkan dari yang paling baru (reverse-chronological).

  4. Skills: Hard skills, tools/software, dan kompetensi teknis.

  5. Education: Riwayat pendidikan formal.

  6. Certifications / Projects (Optional): Masukin kalau relevan sama posisi yang dituju.

Tips Optimasi Headline:

Jangan cuma nulis "Fresh Graduate" atau "Hardworking Individual". Pasang targeted keyword dan angka metrik.

Contoh: Talent Acquisition Specialist | 3+ Years in Tech & Corporate Hiring | Scaled 50+ Headcount in 6 Months.

3. Maksimalkan Bullet Points Experience: Rumus X-Y-Z

Bagian pengalaman kerja adalah kunci utama. Jangan bikin deskripsi kerja kayak daftar tugas harian (job description copy-paste), tapi tunjukin dampak / hasil kerja.

Gunakan formula: Action Verb + Konteks/Tugas + Hasil/Metrik (Angka Riil).

  • Biasa aja (Skip):

    "Bertanggung jawab melakukan rekrutmen karyawan baru."

  • Optimal (Dilirik Recruiter):

    "Memimpin end-to-end recruitment untuk 15+ posisi teknikal, memangkas time-to-hire sebesar 25% melalui optimasi sourcing channel."

Pilih kata kerja tindakan (action verbs) yang kuat kayak: Mengembangkan, Mengoptimalkan, Memangkas, Mengelola, Merancang, Mengintegrasikan.

4. Penulisan Skills: Pisahkan Hard Skills & Tools

Bagian skills itu ladang keyword utama buat mesin pencari ATS. Hindari soft skills klise kayak "Komunikatif, Pekerja Keras, Bisa Kerja Tim" yang makan tempat tanpa bukti.

Kelompokkan skills lu jadi jelas:

  • Core Competencies: Talent Sourcing, Performance Management, Data Analysis, Contract Review.

  • Tools & Software: Google Workspace, Notion, Jira, Python, Figma.

  • Languages: Bahasa Indonesia (Native), English (Professional Working).

Pesan moral dari tulisan gua kali ini sederhana: dalam mencari kerja, kerja keras lu gak bakal keliatan kalau cara lu "menjual diri" di atas kertas belum tepat. CV itu bukan cuma rekam jejak, tapi tiket pertama lu buat dapet kesempatan ngobrol langsung di meja interview.

Semoga tips ini bisa ngebantu lu yang lagi berjuang di job market 2026. Kuncinya, perbaiki berkasnya, evaluasi berkala, dan "Jalani dulu aja".

Sekian.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Assalamualaikum. | Selamat Pagi/Siang/Malam. 

Akhir-akhir ini gua lagi disibuk-in sama semester pendek, yang jumlah perkuliahan dan tugasnya gak main-main. Disisi lain, gua juga punya channel YouTube yang bahas soal Football Manager, sebenernya channel itu udah lama, dari jaman Football Manager 2018 rilis gua udah bikin walaupun dulu fokusnya kepecah sama topik lain, nah mulai tahun ini mau gua fokusin aja sama konten FM. Seiring berjalannya waktu, gua sempet browsing-browsing di YouTube, ternyata channel yang dedikasikan konten dan bahasannya dengan FM berbahasa Indonesia itu cuma channel gua, that's mean ini peluang banget buat gua.

Dalam waktu singkat gua udah dapet subscriber sekitar 150an, emang sedikit sih kalo lu bandingin sama channel lain, karena gua emang ga pernah share dan promosi kemana-mana kecuali ke Facebook page channel ini aja, bahkan gua ga pernah sekalipun share ke Instagram gua, atau story di Instagram & Whatsapp. Jadi bener-bener penonton dan subscriber gua itu organik dari orang-orang yang minat sama FM dan nemu channel gua di YouTube.

Ternyata ga segampang itu untuk buat konten gaming, apalagi dengan device yang seadanya dan kesibukan gua sepanjang tahun 2018 jadi ketua UKM futsal dan pengurus di sana-sini. Alhasil gua mentok bikin konten sekitar 15 video, dari video-video itu channel gua mulai dikenal, bahkan ada video yang ditonton lebih dari 7000 kali, itu sih jadi pencapain tersendiri buat gua, komunitas mulai terbangun dan banyak yang komen, bener-bener kayak mimpi jadi kenyataan gitu sih.

Sampai suatu ketika FM 2019 rilis, dan gua udah beli game ini dari jaman pre-order, saat itu ada salah satu subscriber gua yang komen dan tanya, "bang kok gak pernah upload lagi?", disaat itulah gua sadar dan mikir, gimana caranya gua bikin konten lagi ditengah kesibukan gua, dan konten macam apa yang mudah dibuat tapi tidak menurunkan kualitas konten-konten yang sebelumnya pernah gua buat. 

Dan bego-nya, gua sempet janjiin subscriber gua bakal bikin video lagi kalo FM 2019 dah rilis (waktu itu sebelum FM 2019 rilis), dan sampe detik ini (06/01/2019) gua belom bikin video baru lagi.

Bencana bagi gua pun tiba...

Sekitar awal desember atau akhir november, muncul lah channel FM berbahasa Indonesia yang diisi dengan konten yang selalu fresh setiap harinya, tapi masih sangat sedikit peminatnya, sampai suatu ketika channel itu komen di channel gua dan saat itu gua notice keberadaannya. Ternyata channel itu milik salah satu pentolan di komunitas Football Manager Indonesia, yang pasti jauh lebih ngerti dan expert soal game ini, dan dia punya privilege untuk meluaskan sepak terjangnya dengan nama dan ketenaran yang dimilikinya. Sampe tulisan ini diterbitkan, channel itu udah punya subscriber sekitar 420, jauh lebih banyak dari channel gua yang baru 190.

Oiya, sebenernya gua ga bermaksud untuk iri atau merasa tersaingi dengan kehadiran channel itu, bahkan kehadirannya bener-bener bikin gua jadi terpacu untuk buat sesuatu yang lebih baru dan unik dengan ke-khas-an channel gua. Gua cuma baru sadar aja, kadang kesempatan gak dateng 2 kali, dan dikepala gua selalu terbayang-bayang "WHAT IF", ya, gimana kalo waktu itu gua gak berhenti bikin konten dan lebih gua seriusin, mungkin sekarang bisa sebanyak itu, karena dengan banyaknya orang yang minat dengan game ini dan jumlah anggota di komunitas yang selalu bertambah.

Pesan moral dari cerita gua ini adalah, terkadang lu harus sadar dengan apa yang lu miliki, apa yang pernah lu lakuin, dan apa yang pernah lu mulai. Karena terkadang dari itu semua kita gak sadar ternyata ada peluang dan kesempatan besar yang bahkan sebelumnya gak pernah lu bayangin.

Semoga setelah beberapa kali gua mengalami peristiwa kayak gini gua bisa lebih belajar dan lebih percaya ke kemampuan gua sendiri. Kuncinya "Jalani dulu aja".

Sekian.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Assalamualaikum. | Selamat Pagi/Siang/Malam. | Sawwadde Krub.

"A Pessimist Sees The Difficulty In Every Opportunity; An Optimist Sees The Opportunity In Every Difficulty." – Winston Churchill.

Halo semuanya, jadi gua pengen berbagi sedikit cerita gua di awal tahun 2019 ini, sebenernya dari tanggal 31 Desember 2018, gua dan beberapa mahasiswa  memulai perkuliahan di semester antara atau semester pendek (whatever u call it). padahal paginya gua baru sampe Semarang dan di kereta gak bisa tidur karena tetangga perjalanan gua bener-bener gak bisa diem, meskipun udah pake earphone nyetel lagu kenceng-kenceng tetep aja gua susah untuk masuk ke fase deep sleep. Untungnya hari pertama kuliah cuma kontrak perkuliahan sama ngasih beberapa tugas doang, ga sampe kuliah full 3 sks. 

Awalnya gua ngira suasana dan jumlah peserta perkuliahan bakal se-rame kuliah seperti biasanya, ternyata ini lebih kaya les privat di primagama atau belajar ngaji sih. Tapi ternyata gua baru sadar, dengan cara inilah gua bisa lebih mendalami materi dan fokus sama kuliah, gak kaya biasanya yang jumlah peserta perkuliahan bisa sampe 40 bahkan 50 orang, itu bener-bener gak ideal banget sih.

Gua ngambil semua jatah yang bisa diambil sama manusia gatau mau liburan kemana (re: mahasiswa semester pendek), yaitu 8 sks, awalnya gua cuma pengen ambil 5 sks aja, tapi karena ketidaktahuan dan ke-soktauan gua akhirnya ke ambil-lah 8 sks. Gua cuma mau bilang, ini bener-bener gila sih, karena dengan waktu perkuliahan yang lebih pendek dari yang normal, semua mata kuliah yang gua ambil itu output-nya jadi tugas akhir yang mana gua harus turun lapangan juga nyari data, ketemu subyek, nyari gelandangan dan lain sebagainya.

Tapi gua kayak ngerasa biasa aja, walaupun awalnya kek pesimis gitu setelah liat tugas-tugasnya. Gua sadar apa yang gua jalanin sekarang bisa aja jadi penyelamat gua di semester tua, maklum aja, gua bukan mahasiswa pinter dengan IP selangit yang ketika IP turun sedikit update status, "ihh, yaa allah kok IP-ku anjlok yaaaa :(". Bahkan gua masih ada satu mata kuliah yang belum lulus, artinya gua kemungkinan bakal molor satu semester untuk ngulang makul itu.

Yaa.. begitu lah hidup, kadang apa yang kita jalanin kayak gak sinkron sama yang kita inginkan, padahal ternyata itu semua yang kita butuhkan. Seperti quotes diatas, mulai sekarang gua harus belajar menerima keadaan dan optimis melihat kesempatan walaupun lagi dikondisi yang kesusahan kayak sekarang ini.

Udah itu aja tulisan gua hari ini, siapapun anda yang baca dan ngikutin tulisan ini, gua cuma mau bilang terima kasih, pengen sih kayak ada yang kritik gitu, soalnya gua nulis di blog ini cuma pengen berbagi dan sekaligus ngasah kemampuan menulis aja haha.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Get the newest post quickly!

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner



Follow Us

  • facebook
  • Instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

  • Berita
  • Cerita
  • Content Creator
  • Dokumen
  • Fakta
  • Futsal
  • Game
  • Info
  • Job Seeking
  • Komputer
  • Kuliah
  • Linkedin
  • Opini
  • Pengalaman
  • Pengetahuan
  • Piala Dunia
  • Profil Pemain
  • Psikologi
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepak Bola
  • Software
  • Tips
  • Tutorial
  • Tutorial Blog
  • UN

Blog Archive

  • August 2026 (6)
  • January 2019 (3)
  • May 2017 (2)
  • June 2014 (3)
  • February 2014 (1)
  • March 2013 (3)
  • February 2013 (10)
  • January 2013 (12)
  • December 2012 (1)
  • November 2012 (2)
  • September 2012 (1)
  • August 2012 (1)
  • May 2012 (3)
  • April 2012 (4)
  • March 2012 (31)
  • February 2012 (10)

Popular Posts

  • Download | Euro Truck Simulator 2 + Patch full version
  • Sisi Positif dari seorang Cristiano Ronaldo
  • Cara Belajar Bahasa Inggris dengan mudah
  • Ciri-Ciri Orang yang akan meninggal dunia
  • Mari kita menghitung kekayaan Bill Gates
  • Profil Bayu Gatra
  • Game Kereta Api OpenBVE Indonesia (from official website)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates